Masih ingat masa kejayaan beberapa tahun lalu? Saat itu, pemilik gedung walet bisa tersenyum lebar hanya dengan menyetor sarang “mangkuk” kotor ke pengepul. Namun, belakangan ini, cerita manis itu perlahan berubah menjadi keluhan panjang. Tren harga sarang burung walet, khususnya bahan baku mentah (raw material), menunjukkan grafik yang mengkhawatirkan dari tahun ke tahun.

Bagi Anda yang baru terjun atau sudah lama menekuni bisnis ini, penurunan harga ini bukan sekadar angka di atas kertas, tapi pukulan nyata bagi operasional. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi di pasar global hingga “emas putih” ini seolah kehilangan kilaunya? Mari kita bedah realita pahit ini tanpa bahasa yang rumit.

Flashback: Dari Primadona Hingga Anjloknya Harga

Jika kita menengok ke belakang, sekitar tahun 2018 hingga awal 2020, harga sarang walet kotor kualitas super masih bisa bertengger gagah di angka belasan juta rupiah per kilogram. Itu adalah masa panen raya bagi banyak petani di Kalimantan, Sumatera, hingga Sulawesi.

Namun, memasuki 2023 hingga 2026, harga terus mengalami koreksi tajam. Laporan di lapangan menyebutkan harga sarang walet kotor kualitas campur kini sering ditawar “sadis” oleh pengepul, bahkan ada yang menyentuh angka di bawah Rp5-7 juta per kilogram untuk kualitas standar. Penurunan ini konsisten terjadi tiap tahun, membuat margin keuntungan petani kian menipis karena biaya perawatan gedung dan parfum walet justru naik.

Biang Kerok: Kenapa Harga Bisa Hancur?

Banyak spekulasi beredar, mulai dari permainan tengkulak hingga isu kartel. Tapi jika dilihat dari kacamata bisnis makro, ada tiga alasan logis yang membuat harga ini terus merosot:

  • Hukum “Suplai Berlebih” (Oversupply): Satu dekade lalu, gedung walet masih jarang. Sekarang? Hampir di setiap sudut kota hingga pelosok desa berdiri rumah walet baru. Suplai bahan baku melimpah ruah, sementara pertumbuhan permintaan tidak secepat produksi sarang. Ini membuat pembeli punya posisi tawar lebih tinggi (Buyer’s Market).
  • Regulasi Tiongkok yang “Rewel”: Tiongkok sebagai konsumen terbesar (menyerap 80% pasar dunia) kini tidak mau asal terima barang. Protokol GACC (General Administration of Customs China) semakin ketat soal kadar nitrit dan warna. Barang yang tidak lolos kriteria ekspor resmi akhirnya membanjiri pasar lokal, membuat harga hancur lebur.
  • Dominasi Barang “Patahan” dan Kualitas Rendah: Banyak gedung baru yang panen paksa atau pengelolaan suhunya kurang tepat, menghasilkan sarang bentuk sudut atau patahan yang harganya memang murah. Ini merusak rata-rata harga pasar secara umum.

Realita Pahit: Kotor Murah, Bersih Tetap Mahal

Ironisnya, penurunan harga drastis ini mayoritas hanya menimpa sarang walet kotor (mentah). Di sisi lain, harga sarang walet yang sudah melalui proses pencucian pabrik (clean bird nest) dan siap ekspor harganya relatif stabil, bahkan cenderung naik.

Celah harga (gap) antara bahan baku dan barang jadi semakin lebar. Pengepul dan pabrik pencucian menekan harga beli di petani untuk menutupi biaya tenaga kerja pencucian yang makin mahal dan risiko susut barang (weight loss) saat proses pembersihan. Jadi, yang “menjerit” sebenarnya adalah petani yang hanya mengandalkan jual putus tanpa proses nilai tambah.

Menghadapi Badai Harga

Melihat tren yang terus menurun, berharap harga akan kembali “gila-gilaan” seperti satu dekade lalu rasanya terlalu naif. Era jual mahal barang kotor sudah lewat.

Pasar kini menuntut transparansi dan kualitas. Pilihannya bagi petani hanya dua: meningkatkan kualitas sarang di dalam gedung agar menghasilkan bentuk mangkok sempurna dengan warna putih kapas (plontos), atau mulai belajar mengolah hasil panen sendiri menjadi barang setengah jadi. Mereka yang tidak beradaptasi dengan standar baru ini, sayangnya, akan terus dipaksa menerima harga yang didikte pasar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

postingan terbaru